APAKAH TUHAN SAMPAI SEKARANG MASIH MENOLONG KITA???

Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh bapak Ari Sujanto umat wilayah GREGORIUS I

Saya bekerja di PT. SPU Buduran-Sidoarjo. Setiap hari saya berangkat kerja pergi – pulang naik Bemo. Selama di dalam Bemo tentu banyak cerita yang menarik , diantaranya ialah kejadian sbb : Saya naik Bemo V dari Jl. Tambaksari ke Pasar Wonokromo, sepanjang jalan Pasar Wonokromo Bemo dilarang berhenti. Jadi sampai perempatan lampu stopan, jika lampu menyala merah, Bemo berhenti.

Kebetulan lampu menyala merah, jadi saya di suruh turun oleh sopir bemo. Saat saya akan turun, baru saja membuka pintu bemo sebelah kiri, saya terkejut oleh seorang pemuda berbadan besar, kekar dengan temannya yang naik sepeda motor menabrak pintu Bemo. Dia langsung terpental ke pagar Pasar Wonokromo dan jatuh tetapi tidak sampai mengenai tubuh saya.

Saya berseru” Tuhan Yesus selamatkan saya” ( Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, Kis 2:21 ). Karena Tuhan melindungi saya, saya tidak terluka sedikitpun, kemudian saya langsung menolong pemuda itu yang tertindih sepeda motor. Setelah saya tolong, saya meminta maaf karena kurang hati-hati.

Tetapi dia malah marah dan berkata kasar : “ Tidak ada maaf-maafan “, setelah itu saya akan dipukul. Dia berkata “ Lengan saya retak “ juga yang dibonceng bangkit dan marah-marah karena kakinya lecet terkena knalpot.

Saya akan dikeroyok 2 orang pemuda yang usianya sekitar 35 tahun sedangkan usia saya 70 tahun. Jika kena pukul 1 orang saja, saya pasti knock out. Saya berkata akan beli minyak tawon dan akan saya pijati. Dia marah-marah :  “ Minyak Tawon ? Tidak ! “ Kamu harus antar saya kerumah sakit untuk difoto, tulang saya retak ! lalu dia meminta KTP saya dan berkata nanti akan diselesaikan di rumah saya.

Ketika saya mendengar perkataannya, saya pikir dia pasti akan memeras saya, jadi saya berkata kalau begitu, lebih baik urusan dengan polisi saja. Dia jawab dengan menantang : “ Ayo ke Polisi “.

Kebetulan di dekat lampu Stopan ada Pos Polisi. Saya bersama kedua pemuda itu langsung ke Pos Polisi. Saya mengucapkan “ Selamat pagi pak, saya mau lapor kejadian yang saya alami.  Saya naik Bemo V lewat Pasar Wonokromo, sepanjang jalan Pasar Wonokromo, Bemo tidak boleh berhenti kecuali sampai lampu Stopan  dan lampu menyala merah. Kebetulan lampu menyala merah, jadi saya disuruh sopir bemo untuk turun. Setelah saya turun, tiba-tiba ada sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabrak pintu bemo sebelah kiri sehingga mereka jatuh. Dia mau mukul saya dan minta KTP saya, tetapi tidak saya berikan kecuali Bapak Polisi yang meminta.

Sekarang saya mohon dengan hormat kebijaksanaan Bapak untuk menyelesaikan perkara ini dengan adil. Kalau saya yang salah, silahkan Bapak proses. Setelah saya selesai lapor kedua pemuda itu langsung berbicara sendiri satu sama lain dan tanpa pamit kepada Bapak Polisi keduanya langsung pergi.

Polisi berkata “ Kalau saya teruskan, pasti saya tilang”. Saya waktu itu ingat firman Kristus, Roma 12:21 “ Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan “. Bukti firman Kristus adalah benar, sehingga saya menang dengan indah, tanpa luka dan tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Demikianlah kesaksian saya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hati Yang Gembira Adalah Obat Yang Manjur

 

Dari Pasar Wonokromo saya akan ke Buduran Sidoarjo hendak kerja. Saya naik Bemo warna kuning. Di dalam Bemo saya mendengar 2 orang ibu sedang berbincang-bincang. Salah satu ibu mengeluh , dia berkata “ Saya heran, tetangga saya kalau lihat saya, wajahnya cemberut seakan-akan benci dengan saya. Saya tidak mengerti kesalahan saya, saya jadi jengkel kalau lihat dia “.

Karena kedua orang ibu tsb sering berjumpa dengan saya di Bemo, dia berbicara sambil melihat saya, jadi saya langsung saja ikut bicara “ Ibu jengkel dan benci tetapi janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang “ ( Roma 12 : 17 ). Ibu itu menjawab “ Saya tidak bisa melakukan ini kalau wajahnya membencikan “. Saya berkata “ Bisa bu, yang mengalah pasti menang. Buktinya teman kerja saya seorang ibu, suaminya juga bekerja, anaknya di rumah dengan pembantunya. Tetangganya juga mempunyai anak yang sebaya dengan anak ibu ini. Tidak tahu apa salahnya, anak tetangga itu tidak boleh bermain dengan anak ibu ini. Kalau anak ibu ini bermain di rumah tetangganya, langsung diusir. Kalau jumpa dengan ibu ini, tetangga tsb wajahnya masam, sehingga ibu ini terganggu, dia selalu gelisah dan cemas”. Dia curhat dengan saya, saya berbicara seperti tadi, kejahatan jangan dibalas kejahatan, lakukan apa yang baik bagi semua orang ( Roma 12 : 17 ).

“Bagaimana caranya pak ?” tanya ibu yang curhat itu, saya katakan “ Walaupun tetangga memusuhi anak ibu, tetapi ibu harus tetap bersikap baik pada anak tetangga itu. Kalau main di rumah ibu, jangan balas mengusir tetapi berikan kue supaya anak itu senang bermain – main dengan anak ibu ”.

Ternyata anak itu sangat gembira dan membawa pulang kue tsb, tidak diketahui anak itu berkata apa kepada ibunya. Mungkin menurut saya karena ibu sudah berbuat baik terhadap anak ini sehingga ibu tetangga tsb mulai senyum-senyum tetapi belum “ kelihatan giginya”. Saya berkata supaya ibu tetangga ini bisa “ Kelihatan giginya “  coba ibu buatkan kue yang agak banyak dan antarkan sendiri ke ibu tetangga itu. Ternyata ibu tetangga itu dengan hati gembira menerimanya dan sekarang sudah gembira dan “ pamer giginya “, malahan saat teman saya masuk kerja, anaknya dititipkan tetangganya.

Itulah kisah nyata, cerita tsb membuat penumpang Bemo gembira. Tiba-tiba sorang ibu tua bicara dengan saya “ Terima kasih Pak “  saya tanya “ Lho ? mengapa ibu mengucapkan terimakasih, saya kan tidak memberikan apa-apa kepada ibu ? “ Ibu tua itu menjawab “ Tadi saya mendengar cerita bapak, sangat lucu sehingga sesak saya ini hilang. Saya naik bemo ini dengan hati yang sesak, karena rumah saya terkena Lumpur lapindo, sehingga saya tidak punya rumah. Sekarang saya menginap di rumah anak saya dengan bergilir, saya periksa dokter ternyata saya terkena gejala sakit jantung. Saya dianjurkan jangan banyak pikir, sekarang terimakasih sesak saya hilang “. Saya berkata “ hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi  semangat yang patah mengeringkan tulang “ ( amsal 17 : 22 ) inilah kebenaran firman Kristus yang saya lakukan.

 

Surabaya, 16 September 2007

Stefanus Ari Sujanto

Lingkungan Gregorius I

 

 

 

Sekolah Minggu dan perkembangan karakter pada anak-anak

SEKOLAH MINGGU, Pintu awal anak-anak mengenal Tuhan lebih dekat

Mengenal Tuhan adalah hal terpenting bagi anak dalam perkembangan karakter dan kepribadiannya.

Saya mulai mengajar sekolah minggu pada tahun 2011, waktu itu saya masih di bangku SMA. Tanpa pengalaman apapun, saya memberanikan diri secara tidak langsung untuk mendampingi adik-adik dalam sebuah acara untuk anak-anak di gereja dan beberapa tahun berikutnya saya mulai mengajar sekolah minggu di wilayah saya. Tidak ada arahan, rekoleksi, atau bimbingan apapun yang diberikan oleh saya. Semua saya pelajari secara otodidak. Baca selanjutnya… “Sekolah Minggu dan perkembangan karakter pada anak-anak”